Dua Pandangan Tanggung Jawab Sosial

Peraturan pemerintah dan kesadaran publik adalah kekuatan eksternal yang telah meningkatkan tanggung jawab sosial dari bisnis. Tetapi keputusan bisnis dibuat di dalam perusahaan. Dua filosofi, atau model yang berbeda, mendefinisikan berbagai sikap manajemen terhadap tanggung jawab sosial; model ekonomi dan sosial ekonomi.

Menurut konsep bisnis tradisional, perusahaan ada untuk menghasilkan barang dan jasa berkualitas, memperoleh laba yang wajar dan menyediakan pekerjaan. Sejalan dengan konsep ini, model ekonomi tanggung jawab sosial menyatakan bahwa masyarakat akan mendapat manfaat lebih banyak ketika bisnis dibiarkan sendirian untuk memproduksi dan memasarkan produk-produk menguntungkan yang dibutuhkan masyarakat. Kepada manajer yang mengadopsi sikap tradisional ini, tanggung jawab sosial adalah pekerjaan orang lain. Setelah semua, pemegang saham berinvestasi dalam sebuah perusahaan untuk mendapatkan pengembalian investasi mereka, bukan karena perusahaan bertanggung jawab secara sosial dan perusahaan secara hukum berkewajiban untuk bertindak dalam kepentingan ekonomi pemegang sahamnya.

Sebaliknya, beberapa manajer percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi juga kepada pelanggan, karyawan, pemasok, dan masyarakat umum. Pandangan yang lebih luas ini disebut sebagai model tanggung jawab sosial ekonomi sosial. Ini menempatkan penekanan tidak hanya pada keuntungan tetapi juga pada dampak keputusan bisnis di masyarakat. Baru-baru ini, semakin banyak manajer dan perusahaan yang mengadopsi model sosioekonomi dan mereka telah melakukannya untuk setidaknya tiga alasan. Pertama, bisnis didominasi oleh bentuk kepemilikan perusahaan dan korporasi adalah ciptaan masyarakat. Kedua, banyak perusahaan mulai bangga dengan catatan tanggung jawab sosial mereka. Ketiga, banyak pebisnis percaya bahwa mereka berkepentingan untuk mengambil inisiatif di bidang ini, sebelum pesaing mereka.

Manfaat model ekonomi dan sosial ekonomi telah diperdebatkan selama bertahun-tahun oleh pemilik bisnis, manajer, pelanggan, dan pejabat pemerintah. Setiap pihak tampaknya memiliki empat argumen utama untuk memperkuat sudut pandangnya. Para pendukung model sosioekonomi mempertahankan bahwa bisnis harus lebih dari sekadar mencari keuntungan untuk mendukung posisi mereka dan mereka menawarkan bahwa bisnis tidak dapat mengabaikan masalah sosial karena bisnis adalah bagian dari masyarakat kita. Selain itu, bisnis memiliki sumber daya teknis, keuangan, dan manajerial yang diperlukan untuk mengatasi masalah sosial yang kompleks saat ini. Selain itu, dengan membantu menyelesaikan masalah sosial, bisnis dapat menciptakan lingkungan yang lebih stabil untuk keuntungan jangka panjang. Akhirnya, para pendukung praktek pengambilan keputusan yang bertanggung jawab secara sosial berpendapat bahwa jenis-jenis taktik ini dapat mencegah intervensi pemerintah yang meningkat, yang akan memaksa bisnis untuk melakukan apa yang gagal mereka lakukan secara sukarela. Semua argumen ini didasarkan pada asumsi bahwa bisnis memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham tetapi juga kepada pelanggan, karyawan, pemasok, dan masyarakat umum.

Para penentang model sosioekonomi berpendapat bahwa bisnis harus melakukan apa yang terbaik; dapatkan keuntungan dengan memproduksi dan memasarkan produk yang diinginkan orang. Mereka yang mendukung posisi mereka berpendapat bahwa manajer bisnis terutama bertanggung jawab kepada pemegang saham, jadi manajemen harus peduli dengan memberikan pengembalian investasi pemilik. Selanjutnya, waktu, uang, dan bakat perusahaan harus digunakan untuk memaksimalkan keuntungan, bukan untuk memecahkan masalah-masalah masyarakat. Juga, masalah sosial mempengaruhi masyarakat secara umum, sehingga bisnis perorangan seharusnya tidak diharapkan untuk menjadi satu-satunya masalah ini. Selain itu, masalah sosial adalah tanggung jawab pejabat pemerintah yang dipilih untuk tujuan itu dan yang bertanggung jawab kepada pemilih untuk keputusan mereka. Argumen-argumen ini jelas didasarkan pada asumsi bahwa tujuan utama bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, sedangkan pemerintah dan lembaga sosial harus berurusan dengan masalah sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *